Konspirasi Vaksin, Senjata Biologis Sebagai Alat Kontrol Populasi

Konspirasi Vaksin, Senjata Biologis Sebagai Alat Kontrol Populasi


Pada tahun 2010, Mantan Menteri Kesehatan RI, mendiang ibu Endang Rahayu Sedyaningsih menargetkan bahwa pada tahun 2014 ini, pencapaian Universal Child Immunization (UCI) di seluruh desa atau kelurahan di Indonesia mencapai 100% atau minimal 90% dari seluruh bayi yang ada.

Untuk mencapai target 100% maka di tahun 2014 dibutuhkan upaya percepatan melalui gerakan akselerasi imunisasi nasional untuk mencapai UCI. Dia mengatakan, “Saya berharap, dari sini akan ada strategi-strategi untuk mencapai target tersebut. Menurut saya imunisasi adalah hal yang penting sebagai preventif terhadap segala penyakit. Imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG, Hepatitis B, DPT HB dan Campak”.

“Imunisasi memberikan dampak besar dalam meningkatkan imun manusia yang terkait dengan angka umur harapan hidup. Keberhasilan imunisasi akan meningkatkan kualitas anak bangsa ujarnya dalam pembukaan rapat Konsultasi Nasional Imunisasi di Jakarta (8/6/2010). Selanjutnya ia berujar bahwa indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur dari percapaian UCI desa atau kelurahan, yaitu 80% bayi di desa atau kelurahan tersebut telah mendapat imunisasi dasar lengkap. Pemberian imunisasi dasar diberikan pada usia bayi 0 sampai 11 bulan, Tanpa imunisasi, anak-anak mudah terserang berbagai penyakit cacat bahkan keamatian.

Apakah benar pernyataan beliau bahwa tanpa imunisasi anak-anak mudah terserang berbagai penyakit, cacat dan kematian? Untuk mengukur kebenaran pernyataan dan keyakinan mantan Menteri Kesehatan RI ini maka kami akan mengungkap misteri dari proyek vaksinasi ini. Apakah memang imunisasi terbukti efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal penyakit? Siapakah sebenarnya pelaku awal dari industri vaksin ini? Apakah imunisasi memang merupakan upaya tulus untuk menyehatkan umat manusia?

Fakta-Fakta Bencana Akibat Vaksin yang Tidak Dipublikasikan

Para prakitisi medis, mulai dokter hingga perawat di Jerman menolak adanya imunisasi Campak. Penolakan ini diterbitkan dalam Journal of The American Medical Association, 20 Februari 1981.
Badan Vaksin AS, The Vaccine Adverse Events Reporting System (VAERS), telah mencatat berbagai reaksi buruk yang disebabkan oleh berbagai program vaksinasi. Tercatat 244.424 kasus dan 2.866 kasus di antaranya berujung kematian, sejak tahun 1999-2002. Demikian pula pada masyarakat di AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.

Jerman mewajibkan vaksinasi untuk Dipteri (1939), namun jumlah kasus dipteri naik tajam menjadi 150.000 kasus.

Vaksin Campak “High Titre” buatan Yugoslavia diuji coba kepada 1.500 anak miskin keturunan Negro dan latin di Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika (1989-1991). Vaksin ini direkomendasikan oleh WHO. Namun selanjutnya program dihentikan dan vaksin ditarik dari pasar karena banyak anak yang meninggal dunia.

Menteri Kesehatan AS, Tommy G. Tompson menyatakan tidak merencanakan memberi suntikan vaksin Cacar. Dia juga merekomendasikan kepada anggota kabinet lainnya untuk tidak ksanakan pelaksanaan vaksin itu. Banyak dilaporkan berbagai gangguan serius pada otak, jantung, sistem metabolisme, dan gangguan Iain mulai mengisi jurhal-jurnal kesehatan.

Vaksai-vaksin Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela (cacar air) terbukti telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri. Mereka menderita kelainan saraf, anak-anak cacat, Diabetes, Autis, auto imun, dan lain-lain.

Pemaksaan vaksin Cacar, ketika orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum terjadi di Inggris (1867). Selama empat tahun dilakukan vaksinasi tersebut kepada 97,5 persen masyarakat usia 2-50 tahun. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik Cacar terburuk dalam sejarah dengan 44.840 kematian.

DR. Bart Classen dari Maryland menerbitkan data yang memperlihatkan tingkat penyakit Diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru setelah vaksin Hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak.

Vaksin Campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar, serta munculnya penyakit-penyakit lainnya. Sehingga WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar pada tahun 1992.

Setiap program vaksin dari WHO dilaksanakan di Afrika dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIVpenyebab AIDS diselundupkan ke vaksin Hepatitis dan vaksin Cacar, dan distmtikkan kepada komunitas homosekaual di AS dan masyarakat di Afrika Tengah.

Tahukah Anda Apakah Bahan-Bahan Berbahaya yang Terdapat di Dalam Vaksin?

  • Alumunium pada vaksin DPT, Hepatitis B, penyebab penyakit Alzeimer, kerusakan otak, kejang dan pikun.
  • Benzetomum Chloride, ada pada vaksin antrax, diberikan kepada militer.
  • Etilen Glikol, pada vaksin Polio, Hepatitis B.
  • Formalin, digunakan untuk bahan peledak, insektisida, fungsida dan kain.
  • Galatin, bahan pemicu alergi.
  • Glutamat, terdapat pada vaksin Varicela.
  • Neomkin pada MMR dan vaksin PoHo, penyebab alergi.
  • Fenol, ada pada vaksin Tifoid, berasal dari tar, batu bara, bahan pewarna, desinfektan, plastik, pengawet, pada dosis tertentu berbahaya.
  • Streptomisin, pada vaksin Polio, Antibiotika, pemicu alergi.
  • Timerosal, mengandung hampir 50 persen etil merkuri (air raksa).

Hampir Semua Vaksin Menggunakan Bahan Dasar dari Enzim Babi

Ahli Farmasi UI, Abdul Mun’im mengaku bahwa hampir semua obat-obatan dalam dunia farmasi menggunakan barang haram. Misalnya alkohol dan enzim babi.315 Dalam kasus vaksin Meningitis, produsen pembuat vaksin perusahaan Glaxo Smith Kline (GSK) juga mengakui vaksin buatan mereka menggunakan enzim dari babi dalam proses pembuatannya. Penggunaan bahan haram dalam pembuatan vaksin pun diakui oleh produsen vaksin terbesar di Indonesia yang gambar logo perusahaan yang jika diterawang lebih dalam, akan nampak gambar bin tang Daud, lambang negara Zioraa Yahudi, PT Bio Farma. Seperti pernah diungkapkan oleh Drs. Iskandar, Apt, MM, ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Bio Farma bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin Polio (IPV).

Dijelaskan bahwa ketika vaksin dibuat maka virus-virus atau bakteri yang telah dilemahkan ditempatkan dalam satu media biakan, misalnya jaringan janin yang gugur, otak kelinci, jaringan marmut, jaringan ginjal anjing, jaringan ginjal monyet, embrio ayam, lambung babi, protein telur ayam, dan lain-lain.

Pandangan Dr. James Howenstine, MD tentang Vaksin

Dr. James Howenstine, MD

Vaksin Cacar dipercaya bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus Cacar sudah menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus Cacar dengan 29.979 berakhir kematian, walaupun program vaksin saat itu digalakkan.

Rata-rata kesuksesan program vaksinasi sebenarnya datang dari perbaikan kesehatan publik lewat kualitas air bersih dan sanitasi, kepadatan hunian yang berkurang, nutrisi yang lebih baik, dan perbaikan standar hidup. Secara umum kasus berbagai penyakit sudah menurun sebelum vaksin penyakit itu ditemukan. Di Inggris, kasus Polio telah menurun 82 persen sebelum vaksin Polio diperkenalkan pada 1956. Pada awal 1900-an, seorang dokter yang sangat cerdas, Dr. W. B. Clarke, mengatakan, “Penyakit kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi Cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker mendapatkan vaksinasi sebelumnya.

Ada sebuah kepercayaan di masyarakat bahwa kita tidak seharusnya mengkritik vaksin karena nantinya publik akan menolak melakukannya. Hal ih& valid hanya bila manfaat dari vaksin jauh lebih besar dari resikonya. Apakah vakain benar-benar mericegah penyakit? Pertarryaan penting ini tampaknya tidak benar-benar dipelajari oleh masyarakat. Vaksin sangat menguntungkan bagi perusahaan farmasi, dan legislasi di Amerika telah memberikan perkecualian kepada mereka, bahwa mereka bebas dari tuntutan hukum bila tidak menuliskan reaksi/efek vaksin yang cukup umum terjadi Pada tahun 1975, Jerman menghentikan vaksinasi Pertusis (batuk). Hari ini kurang dari 10 persen anak-anak Jerman divaksinasi Pertusis. Kasus Pertusis tetap menurun sekalipun lebih sedikit anak-anak yang divaksinasi dibanding sebelumnya,

Kasus Campak terjadi di sekolah dengan tingkat vaksinasi lebih dari 98 persen di seluruh bagian Amerika Serikat, termasuk area yang sebelumnya tidak mengenal Campak. Setting meningkatnya tingkat imunisasi, Campak menjadi penyakit yang terjadi hanya pada orang-orang yang telah divaksinasi. Wabah Campak terjadi di sekolah yang 100 persen anak-anaknya telah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Di Inggris, kasus Campak menurun 97 persen sebelum program vaksinasi dilakukan.

Pada 1986 ada 1.300 kasus Pertusis di Kansas dan 90 persen penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia. Pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal. Pertusis tetap menjadi endemik di Belanda. Selama 20 tahun, 96 persen anak-anak telah mendapatkan 3 suntikan Pertusis sebelum umur 12 bulan. Setelah dimulainya vaksinasi Dipteri di Inggris dan Wales tahun 1894 kasus kematian Dipteri naik 20 persen pada 15 tahun kemudian. Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus Dipteri naik menjadi 150.000 kasus, sedangkan pada tahun yang samay Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus Dipteri-nya hanya sebanyak 50 kasus. Berlanjutnya penyakit pada anak-anak yang telah mendapatkan

Vaksinasi membuktikan bahwa imunitas seumur hidup paska vaksinasi jebenarnya tidak terjadi. Proses suntikan partikel viral ke dalam darah I sebenarnya tidak menyediakan jalan yang jelas untuk mengeliminasi bstansi ini.

Konspirasi Vaksin Adalah Agenda Depopulation Program New World Order

Pada abad ke-20 vaksin modern dikelola oleh Flextner Brothers, yang penelitiannya tentang imunisasi pada manusia didanai oleh keluarga Yahudi Rockefeller, Mereka adalah salah satu keluarga yang paling berpengaruh di dunia dan bagian dari tokoh Zionis internasional yang memprakarsai pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.

Dalam kerangka strategi The New World Order untuk mengendalikan jumlah penduduk dunia (Depopulation Program) dan bisnis miliaran juta dollar, keuntungan industri vaksin sangat menggiurkan, dan dalam tempo jangka panjang sangat dahsyat daya rusaknya terhadap kesehatan manusia. Apalagi WHO telah mewajibkan seluruh negara anggotanya mengimunisasi semua bayi di seluruh dunia. Kalau tidak, negara-negara tersebut dikenakan akan sanksi berat, sungguh kebijakan yang aneh dan terlalu memaksa.

Henry Kissinger, seorang Yahudi yang dikenal keberpihakannya terhadap Zionis


Jerry D. Gray, seorang ahli dalam masalah Konspirasi mengatakan tentang hubungan industri vaksin dengan New World Order:
“Sudah cukup banyak dasar-dasar sebuah kecurigaan terhadap kondisi dan sebagai pembuktian dari bagian perencanaan New World Order adalah untuk menyebarkan virus-virus penyakit yang mematikan ke seluruh dunia, dan HIV/AIDS adalah salah satu dari jenis virus dan penyakit tersebut. Alasan dan landasan dasar untuk melakukan hal ini adalah untuk dengan sengaja melakukan ‘seleksi khusus’ dalam upaya mereka mengurangi penduduk dunia. Berhati-hatilah dengan program Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) dalam programnya memberikan imunisasiPJ. Ketika mereka menjelajah benua Afrika dengan program vaksinasinya, maka disanalah tersebar wabah AIDS ataupun wabah lainnya.”

Depopulasi adalah kondisi harus menurunkan jumlah penduduk (atau tidak ada penghuni sama sekali). Jadi menurut konspirasi ini berarti pengurangan jumlah penduduk dunia. Konspirasi teori yang satu ini adalah yang paling menghebohkan, namun juga yang paling tak mudah untuk dipercaya. Ya, karena akal pikiran kita tetap berpikir, bahwa semua ini takkan pernah terjadi.

Pengontrolan kembali jumlah populasi dunia (World Depopulation) dengan cara mengurangi jumlah penduduk oleh kelompok elit dunia “The Bilderberg” ini memang terus berjalan. Apakah anda tidak merasakannya?

Jika tidak, memang itulah yang mereka harapkan. Mereka berencana mengurangi jumlah penduduk dunia yang kini berjumlah 7 miliar menjadi 500 juta saja! Semua itu bukan hanya ihftai, namun beberapa fakta memang sudah terbukti dan tetap terus berjalan.

Hal ini sudah dikatakan oleh banyak saksi mata dari beberapa penelitf, para ahli dan oleh para pakar teori kbnspirasi, salah satunya adalah Jesse Ventura. Jesse Ventura adalah seorang mantan Gubernur ke-38 (1999-2003) negara bagian Minnesota di Amerika Serikat. Dia juga mantan NAVY Seal saat perang Vietnam.Ventura banyak membintangi film, bahkan merupakan mantan pegulat profesional, yang kini beralih menjadi pakar teori konspirasi.

Beberapa pakar dan peneliti yang telah ditemuinya, bersaksi telah melihat dampak dan bukti-bukti keberadaan agenda ini dari kaum Sjlurainati dan para elit dunia, yang mempunyai kekuatan-kekuatan superior untuk menguasai dunia dengan hanya satu komando saja, New World Order, komando dari mereka.

Dr. Rima Laibow, seorang dokter advokat (Natural Medicine Advocate), telah mengetahui dan bertemu dengan salah satu anggota aliran satanik ini tentang salah satu cara menjalani depopulasi, yaitu dengan VAKSINASI!

Selain itu, Dr. Rima juga menyatakan, “Mereka tak ada hubungannya dengan suatu kelompok agama, tak ada hubungannya dengan suatu ras, tak ada hubungannya dengan suatu bangsa, tak ada hubungannya dengan suatu politik apapun dan hubungan lainnya,” ujar Dr. Rima setelah ditanya oleh Jesse tentang siapa “para elit dunia” ini.


Sumber :
  • Perang Akhir Zaman, hal 313-332, Abu Rabbani Abdullah, SS, ALWAN. 2014
  • Makalah ilmiah, Dr. James Howenstine, MD; htttp://barboek.blogspot.com/2010/12/bahaya-vaksin.html
  • American Shadow Government, hal. 96-97, Abdurrahman Jerry D. Gray, Sinergi Publishing, cetakan ke-4, 2008
  • Makalah Vaksinasi , Suatu Kejahatan Terselubung dalam Bidang Kesehatan, hal. 10-12, Abdullah Ricko Soenoko, SS., 2011
  • Imunisasi, Dampak. Konspirasi & Solusi Sehat ala Rasulullah Saw, hal 17-18, Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam, Nabawiyah Press, 2009

Buka juga :

Post a Comment

0 Comments