Diam Itu Emas, Bicara Adalah Perak

Diam Itu Emas, Bicara Adalah Perak


Diam Itu Emas, Bicara Adalah Perak

Berdiam Untuk Mengunci Diri dari Kata-kata yang Menyebarkan Fitnah dan Kebencian. 
Ungkapan yang menyatakan bahwa diam itu ibarat emas dan berbicara itu ibarat perak, maksudnya adalah diam itu lebih baik daripada berbicara ngawur tidak memberikan manfaat kebaikan bagi pendengarnya. Tapi berbicara yang bisa menimbulkan kebaikan bagi pembicara dan bagi pendengarnya, tentu akan lebih baik. Perkataan yang salah, apalagi dicampuri dengan emosi yang tidak terkontrol, tentu akan sangat membahayakan karena bisa menyakitkan perasaan orang lain. 

Dalam kondisi demikianlah, diam itu bagaikan emas yang sangat berharga. Dalam hadis riwayat Athabrani Rosulullah bersabda, "Kesalahan yang paling banyak dilakukan anak Adam, adalah pada lidahnya." Namun kebaikan juga bisa timbul dari lisan, tergantung orang yang menggunakannya. Lidah ini kelak akan menjadi saksi pada hari perhitungan "Yaumul Hisab" di hadapan Hakim yang Maha Bisjaksana. Tugas kita adalah menjaga, bagaimana agar lidah ini tidak menyebarkan kejahatan. 
Firman ALlah : surah / surat : An-Nuur Ayat : 24 yawma tasyhadu 'alayhim alsinatuhum wa-aydiihim wa-arjuluhum bimaa kaanuu ya'maluuna 24. pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Sebuah hadis Rosulullah s.a.w. menyatakan: "Orang Islam itu adalah orang yang menyelamatkan orang Islam lain dari kejahatan lidahnya dan tangannya." Lidah dan tangan merupakan dua anggota tubuh yang berpotensi untuk mendatangkan kebaikan dan keburukan dalam pergaulan di tengah masyarakat. Diri kita akan dinilai orang sebagai seorang muslim yang bai, kalau mereka merasa aman, tidak terganggu ketenteraman hidupnya oleh ucapan dan perbuatan kita. Apabila masyarakt di sekitar kita merasa tidak aman atas kehadiran kita di tengah-tengah mereka, maka kita perlu memperbaiki diri karena ada indikasi bahwa keislaman kita masih kurang, karena diri kita tidak sanggup memberikan keamanan terhadap orang lain. 
Dalam hadis lain, diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdullah as Tsaqofi r.a. dia berkata, "Wahai Rosulullah, apakah yang paling engkau takuti dari diriku?" Maka Rosulullah s.a.w. memegang lidahnya sendiri lalu bersabda, "Ini." (Riwayat Tirmidzi) Ada peribahasa yang menyatakan, :"Mulutmu harimaumu." artinya bahwa perkataan seseorang itu bisa menerkam orang lain bagaikan harimau menerkam mangsanya. Hanya dengan perkataan, seseorang bisa jatuh dari kedudukannya, mati kariernya danhilang sumber kehidupannya. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita dalam Al Qur'an: surah / surat : Qaaf Ayat : 18 maa yalfizhu min qawlin illaa ladayhi raqiibun 'atiidun 18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Semua kata-kata kita kelak akan dimintakan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Billahit taufiq wal hidayah.


Buka juga :

Post a Comment

0 Comments